Cari Blog Ini

Sabtu, 10 Desember 2016

Makalah Bumi Purbakala dan Asal Usul Kehidupan



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Perkembangan evolusi saat ini merupakan hal yang sangat fenomel dalam dunia ilmu pengetahuan. Kajian evolusi merupakan merupakan salah satu kajian ilmu pengetahaun yang membahas tentang perkembangan mahluk hidup pada masa lampau hingga masa kini. Perkembangan ilmu evolusi berdasarkan fakta-fakta empiris yang dirumuskan secara spekulatif oleh para peneliti. Bukti evolusi pada saat ini yang sering digunakan sebagai pendukung ilmu evolusi adalah dengan penemuan fosil.
Bukti paling awal dari kehidupan di bumi berasal dari fosil mikroorganisme yang berumur sekitar 3,5 miliar tahun lalu. Namun kapan dan bagaimana sel-sel hidup pertama kali muncul. Hal ini merupakan propaganda yang menarik untuk dibahas pada kalangan mahasiswa yang memiliki pemikiran dan pandangan tentang hal tersebut.
Fosil-fosil yang ditemukan di berbagai belahan dunia menuturkan kisah yang serupa. Organisme masa lalu sangat berbeda dengan organisme yang masih hidup sekarang. Perubahan besar-besaran dalam kehidupan dibumi yang diungkapkan oleh fosil menggambarkan makroevolusi, pola evolusi pada skala waktu yang besar. Jika dipertimbangkan sekaligus, perubahan fosil merupakan sajian pandangan yang agung tentang sejarah kehidupan dibumi. Asal usul kehidupan adalah topik yang paling spekulatif dari segala keseluruhan unit, karena tidak ada bukti fosil dari episode yang penting.
Perkembangan ilmu evolusi pada saat merupakan ilmu yang paling hangat dijadikan topik permasalahan di kanca mhasiswa sebagai agen yang memiliki peran sebagai agen of control dan agen of change. Berdasarkan hal tersebut maka perlu dilakukan ringkasan materi tentang Bumi Perbakala dan Asal Usul Kehidupan, yang akan dilanjutkan pada tahapan diskusi.

1.2  Rumusan Masalah
Rumusan Masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana sejarah kehidupan dibumi ?
2.      Bagaimana evolusi kimiawi prabiotik dan asal mula kehidupan ?
3.      Bagaiman garis keturunan utama kehidupan ?

1.3  Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui sejarah kehidupan dibumi.
2.      Untuk mengetahui evolusi kimiawi prabiotik dan asal mula kehidupan.
3.      Untuk mengetahui garis keturunan utama kehidupan.

1.4  Manfaat
Manfaat dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Sebagai sumber informasi tentang asal usul bumi purbakala dan asal usul kehidupan.
2.      Sebagai sarana informasi di forum diskusi. 


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengantar sejarah kehidupan di Bumi
Kehidupan dimulai sangat dini dalam sejaarah bumi, dan organism pertama itu merupakan nenek moyang bagi kaleidoskop keanekaragaman biologis yang kita lihat saat ini. Organism yang paling kita kenal adalah organisme makroskopik dan multiseluler-terutama tumbuhan dan hewan. Namun demikian, pada tiga perempat awal sejarah, satu-satunya bumi adalah mikroskopik dan uniseluler (bersel tunggal).
Kehidupan di Bumi bermula antara 3,5 dan 4,0 miliar tahun silam. Bumi terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun silam, dan kemungkinan kehidupan baru dimulai beberapa ratus juta tahun kemudian. Para saintis telah menemukan isotop karbon yang menunjukkan adanya aktivitas metabolisme organisme dalam batuan yang berumur 3,8 miliar tahun di Greenland. Bukti-bukti kehidupan prokariota (purba) telah ditemukan pada batuan yang disebut stromatolit (Bahasa Yunani stroma, “tempat tidur”, dan lithos, “batu”). Stromatolit adalah kubah bergaris-garis yang tersusun dari batuan sedimen yang sangat mirip dengan kerak berlapis-lapis, yang sekarang ini terbentuk pada dasar rawa berair asin dan beberapa laguna laut hangat oleh koloni bakteri dan sianobakteri. Lapisam itu adalah emdapan yang menempel ke lapisan seperti jelli yang tersusun dari mikroba yang motil, yang secara terus menerus bermigrasi, keluar dari satu lapisan sedimen kemudian membentuk sebuah lapisan baru lagi diatasnya, sehingga menghasilkan pola pita berlapis. Meskipun beberapa stromatolit dapat terbuat dari pengendapan mineral tanpa adanya kehidupan, fosil yang mirip prokariota berbentuk bola (sferikal) dan berfilamen telah ditemukan pada stromatolit berumur 3,5 miliar tahun di Afrika bagian selatan dan Australia Barat fosil tersebut saat ini merupakan fosil organisme hidup tertua  yang diketahui. Namun demikian, fosil yang terdapat di Australia Barat tampak seperti organisme fotosintetik.
 

 


Gambar 1. Sormatolit yang ditemukan pada 3,8 miliar tahun lalu


2.2 Evolusi kimiawi prabiotik dan asal mula kehidupan
Kondisi di Bumi awal memungkinkan munculnya kehidupan. Pengamatan dan percobaan kimia, geologi, dan fisika telah menuntun para saintis untuk mengajukan satu hipotesis bahwa proses-proses kimiawi dan fisika di Bumi awal, dibantu oleh kekuatan seleksi alam yang mulai muncul, bisa jadi telah menghasilkan sel-sel yang sangat sederhana melalui serangkaian dari empat tahap utama:
1.      Sintesis abiotik (tak hidup) dari molekul-molekul organik yang kecil, seperti asam amino dan nukleotida.
2.      Penggabungan molekul-molekul kecil ini menjadi makromolekul, termasuk protein dan asam amino
3.      Pengemasan molekul-molekul ini menjadi ‘protobion’, tetesan dengan membran-mebran yang menjadi kimia internal yang berbeda dari lingkungannya
4.      Asal usul molekul yang bereplikasi–sendiri, yang akhirnya memungkinkan terjadinya pewarisan sifat (Campbell, 2008)
a.      Sintesis abiotik monomer organic merupakan suatu hipotesis yang dapat diuji : sains sebagai proses

Pada tahun 1920-an, A.I. Oparin dari Rusia dan J.B.S. Haldane dari Britania Raya secara terpisah postulat bahwa kondisi pada bumi primitif mendukung terjadinya reaksi kimia untuk mensintesis senyawa organic yang berasal dari prokursor organik yang terdapat pada atmosfir dan lautan purbakala. Menurut Oparin dan Haldane, hal itu tidak dapat terjadi di Bumi modern, karena atmosfir saat ini banyak mengandung oksigen yang dihasilkan kehidupan fotosintetik. Atmosfer pengkosidasi yang ada saat ini tidak memungkinkan untuk mensintesis molekul kompleks secara spontan karena oksigen pada atmosfer akan memutuskan ikatan kimia yang melepaskan electron. Sebelum terjadinya fotosintesis yang menghasilkan oksigen, bumi memiliki lebih sedikit atmosfer pengoksidasi dan sebagian besar oksigen diperoleh dari uap vulkanik. Atmosfer pereduksi (penambah electron) semacam itu akan meningkatkan penggabungan molekul sederhana untuk membentuk molekul yang lebih kompleks. Bahkan dengan atmosfer pereduksi, pembuatan molekul-molekul organic memerlukan energy yang cukup banyak, yang mungkin terdapat pada kilat dan radiasi UV yang menembus atmosfer primitive tersebut. Atmosfer modern memiliki lapisan ozon yang dihasilkan dari oksigen, dan lapisan pelindung ozon ini menyaring sebagian besar radiasi UV. Terdapat juga bukti bahwa matahari yang masih muda memancarkan lebih banyak radiasi UV dibandingkan dengan matahari yang lebih tua. Oparin dan Haldane membayangkan suatu dunia kuno dengan kondisi kimiawi dan sumber daya energy yang diperlukan untuk sintesis molekul  organic dari bahan-bahan abiotik.
Pada tahun 1993, Stanley Miller dan Harold Urray menguji hipotesis Oparin dan Haldane. Atmosfer dalam model Miller-Urray terdiri atas H2O, H2, CH4 atau metana, dan NH3 atau ammonia, gas-gas yang diyakini oleh para peneliti pada tahun 1950-an banyak terdapat di dunia kuno purbakala. Atmosfer ini barangkali mereduksi lebih uat dibandingkan dengan atmosfer sesungguhnya pada keadaan bumi purbakala. Gunung berapi modern memancarkan CO, CO2, N2,  dan uap air dan kemungkinan bahwa gas-gas tersebut sangat berlimpah di atmosfer masa silam. Hydrogen (H) barangkali bukan merupakan komponen utama dan O2 dalam jumlah sedikit mungkin juga sudah ada, yang terbentuk dari reaksi diantara gas-gas lain saat gas tersebut terbakar dibawah radiasi UV yang sangat kuat. 

Gambar 2. sintesis molekul organic secara abiotik dalam suatu sistem model. Stanley miller dan Harold urray menggunakan yang suatu peralatan yang mirip dengan gambar ini untuk meniru dinamika bahan kimia pada bumi primitive. Satu labu air yang dihangatkan merupakan simulasi laut primitive atmosfer  terdiri atas H2O, H2, CH4, dan NH3. Kilatan listrik diciptkan dalam atmosfer sintesis untuk meniru kilat.

Banyak laboratorium telah mengulangi percobaan Miller-Uray dengan menggunakan jenis campuran sebagai susunan atmosfer. Sintesis abiotik senyawa organic terjadi pada model yang dimodifikasi, meskipun hasilnya secara umum lebih kecil dibandingkan dengan hasil yang dihasil yang diperoleh pada percobaan sebelumnya. Analogi bumi primitive di laboratorium itu seluruhnya telah menghsilkan 20 macam asam amino yang umum terdapat pada organism, beberapa jenis gula, lipid, basa purin dan pirimidin yang terdapat pada nukleotida DNA dan RNA, dan bahkan ATP (jika ditambahkan fosfat kedalam tabung reaksi itu).
Percobaan Miller-Uray masih merangsang perdebatan dan riset dalam sintesis abiotik senyawa organic. Sekarang ini penelitian difokuskan pada asal bahan kimia yang diperlukan untuk sintesis organic dan tempat reaksi itu paling mungkin terjadi. Banyak saintis meragukan bahwa kondisi atmosfer purbakala berperan penting dalam reaksi-reaksi kimia purbakala. Sesungguhnya, gunung berapi yang terendam dan celah laut dalam celah pada kerak bumi dimana air panas dan mineral memancar ke lautan dalam kemungkinan telah menyediakan sumber daya yang esensial. Berdasarkan bukti-bukti, ada kemungkinan bahwa kehidupan dimulai dalam suatu lingkungan kimia yang jauh lebih sederhana daripada yang diduga sebelumnya. Misalnya, sel-sel pertama mungkin telah menggunakan sulfur anorganik dan senyawa besi sebagai sumber energi untuk membuat ATPnya sendiri, ketimbang mengambil senyawa tersebut dari lingkungan sekitar.

b.      Simulasi kondisi bumi primitive di laboratorium telah menghasilkan polimer organic

Sebelum ada kehidupan, bahan kimiawi penyusunnya kemungkinan telah terakumulasi sebelumnya sebagai suatu tahap alamiah dalam evolusi kimiawi pada planet ini. Pada keadaan seperti itu, sintesis abiotik molekul organic yang lebih kompleks melalui penyatuan molekul-molekul yang lebih kecil juga kemungkinan tidak dapat dihindari. Polimer organic seperti protein adalah untai rantai dengan bahan penyusun yang sama yang disebut monomer. Dalam sel hidup, enzim spesifik mengkatalisis reaksi-reaksi yang ada. Sintesis abiotik polimer awalnya harus terjadi tanpa bantuan enzim-enzim yang efisien tersebut. Selain itu konsentrasi monomer yang encer, yang larut dalam air yang berlebih, tentu tidak akan menyebabkan reaksi-reaksi yang spontan. Polimerasi memang terjadi pada percobaan di laboratorium ketika larutan encer monomer organic diteteskan ke pasir, tanah liat, atau batu panas. Proses tersebut menguapkan air dan memekatkan monomer pada substrat. Dengan menggunakan metode ini, Sidney Fox dari University of Miami telah membuat proteinoid, yang merupakan polpeptida yang dihasilkan dengan cara abiotik. Kemungkinan gelombang atau hujan memilikki larutan encer monomer organic diatas lava segar atau batuan panas lainnya saat kondisi awal bumi, kemudian membilas proteinoid tersebut dan polimer lainnya kembali ke dalam air.
Tanah liat, bahkan tanah liat dingin sekalipun, mungkin sangat penting sebagai suatu subtract prasyarat terjadinya reaksi polimerisasi bagi kehidupan. Tanah liat memekatkan asam amino dan monomer organic lainnya dari larutan yang encer, karena monomer tersebut berikatan disisi bermuatan pada partikel tanah liat. Dibeberapa sisi pengikatan itu, atom logam, seperti besi dan seng, berfungsi sebagai katalis yang memfasilitasi reaksi penyambungan monomer tersebut. Tanah liat, yang memiliki banyak sisi pengikat itu, seharusnya berfungsi sebagai suatu kisi-kisi yang mendekatkan monomer satu dengan monomer lainnya, kemudian membantu menyatukan monomer-monomer tersebut menjadi polimer. Sebagai alternative tanah liat, pirit besi (emas tiruan/fools gold), yang terdiri dari besi dan sulfur, telah diusulkan sebagai subtract untuk sintesis organic. Hipotesis ini didukung oleh Gunter Wachtershauser dari Jerman, yang menerangkan bahwa beberapa cirri pirit mungkin telah mengkatalisis sintesis abiotik polimer organic. Pirit memiliki suatu permukaan yang bermuatan dan pembentukan mineral ini dari besi dan sulfur menghasilkan electron yang dapat membantu pembentukan ikatan antara molekul-molekul organic untuk membentuk produk yang lebih kompleks.

c.       Protobion dapat terbentuk dengan penggabungan sendiri
Ciri kehidupan terbentuk dari interaksi molekul-molekul yang disusun dalam urtan tingkat yang lebih tinggi. Sel-sel hidup mungkin didahului oleh protobion, yaitu agrerat (kumpulan) molekul-molekul yang dihasilkan secara abiotik. Protobion tidak dapat bereproduksi secara tepat, akan tetapi protobion akan mempertahankan suatu lingkungan kimia internal yang berada dengan lingkungan sekitarnya dan memperlihatkan beberapa ciri yang berasosiasi dengan kehidupan., meliputi metabolism dan eksitibalitas sifat (dapat dirangsang). 
Salah satu jenis protobion (yang dinamai sebagai konservasi (coartervate) oleh Oparin) merupakan satu droplet (butiran) stabil yang cenderung bergabung dengan sedirinya, ketika suatu suspens makromolekul (polipeptida, asam nukleat dan polisakarida) dikocok. Masig-masing koaservat merupakan suatu kumpulan makro molekul, yang sebagan besar bersifat hidrofobik, yang dikelilingi dan distabilkan oleh suatu lapisan molekul air. Jika enzim kedalam bahan-bahan tersbut, maka enzim itu akan bergabung dengan koaservat. Kemudian koaservat itu dapat menyerap subtrat ke lingkungannya dan melepaskan produk hasil reaksi yang dikatalisis oleh enzim tersebut.
Percobaan dilaboratorium menunjukkan bahwa protobion kemungkinann dapat terbentuk secara spontan dari senyawa organic yang dihasilkan secara abiotik. Jika dicampur dengan air dingin, proteionoid akan bergabung dengan sendirinya menjadi butiran atau tetesan yang disebut mikrosver. Di bungkus oleh suatu membaran protein yang selektif permiabel, mikrosver itu secara osmosis akan menggembung atau mengkerut saat ditempatkan dalam larutan dengan konsentrasi garam yang berbeda. Beberapa mikrosver juga menyimpan energi dalam bentuk suatu potensial membrane, yaitu suatu tegangan listrik diseluruh permukan membran. Protobion dalam melepaskan tegangan dengan pola yang sama seperti pada saraf; eksitabilitas (peka rangsang) seperti itu merupakan ciri khas semua kehidupan (bukan berarti bahwa mikrosver itu adalah mahluk hidup, tetapi bahwa mikrosver menujukkan adanya beberapa kehidupan). Droplet  jenis lain, yang disebut dengan liposom, yang dibentuk secara spontan ketika lipid tertentu merupakan bagian dari bahan penyusun organiknya. Lipid-lipid tersebut membentuk suatu lapisan ganda molekuler, yang sangat mirip dengan lapisan ganda lilpid pada membrane sel. Liposom memperihatkan raksi yang dinamis, kadang-kadang tmbuh menjadi besar dengan cara menelan, liposom yang berukuran lebih kecil dan kemudian terpecah, pada kesempatan lain liposom “melahirkan” liposom yang berukuran kecil.
Berbeda dari beberapa model laboratorium, protobion yang terbentuk didalam laut, dimasa silam tidak memiliki enzim yang telah dimurnikan, yang dibuat didalam sel berdasarkan perintah yang diturunkan.Beberapa molekul yang dihasilkan secara abiotik memiliki kemampuan yang lemah, dan mungkin telah ada protobion dengan metabolisme yang rudimenter, yang memungkinkan protobion tersebut mengubah zat-zat yang mereka ambil kedalam sel melalui membrane.

d.      Kemungkinan RNA merupakan bahan genetic yang pertama
Bayangkan suatu kolam yang pasang surut, kolam air tawar, atau tanah liat yang lembab pada Bumi primitive dengan suatu suspense protobion yang berfariasi dalam komposisi bahan kima, permiabilitas, dan kemampaun katalitiknya. Droplet yang paling stabil dan yang paling mampu mengumpulkan molekul organik dari lingkungan akan tumbuh dan membelah, kemudian menyebarkan komponen bahan kiamianya ke droplet  “ anakan”. Droplet  lainnya akan hancur atau tidak dapat tumbuh dan membelah. Dengan cara ini, lingkungan telah menyeleksi dan lebih menyukai kumpulan molekuler  yang lain. Akan tetapi persaingan diantara berbagai protobion tidak dapat mengakibatkan perbaikan jangka panjang, karena tidak ada cara untuk selalu mempertahankan keberhasilan. Sementara droplet yang prolific (yang mudah berkembang biak) tumbuh, membelah, tumbuh, dan membelah lagi, katalisis yang unik dan molekul  fungsional lainnya akan menjadi semakin encer. Agrerat kimiawi, yang merupakan pelopor sel tidak dapat terbentuk dimasa lalu dan belum berevolusi hingga terjadi perkembangan beberapa mekanisme untuk mereplikasi karakteristik- suatu mekanisme hereditas.
Sel menyimpan informasi genetik sebagai DNA kemudian informasi  genetic itu di transkripsi menjadi RNA, setelah itu RNA ditranlasi menjadi enzim spesifik dan protei lain. Intruksi-intruksi diteruskan melalui replikasi DNA saat suatu sel membelah. Mekanisme control sekuler pembentukan DNA ke RNA dan ke PROTEIN menggunakan serangkaian peralatan yang rumit, yang tidak dapat membentuk semuanya secara sekaligus, akan tetapi muncul sedikit demi sedikit untuk memperbaiki proses yang lebih sederhana. Bahkan sebelumnya DNA, beberapa mekanisme sederhana mungkin telah ada untuk menjajarkan asam amino disepanjang untaian RNA yang dapat bereplikasi sendiri. Menurut hipotesis ini, gen pertama bukan merupakan molekul DNA, akan tetapi berupa untai pendek yang bereplikasi sendiri dalam dunia prabiotik.
Beberapa sintesis telah menguji hipotesis mengenai RNA yang bereplikasi sendiri.Polimer pendek ribonukleotida telah dihasilkan secara abiotic dalam percobaan di dalam laboratorium. Jika RNA ditambahkan ke dalam suatu larutan ang mengandung monomer untuk membuat RNA lebih banyak, maka urutan lima samapai sepuluh nukeotida disalin dari cetakan (template) menurut aturan pasang basa. Jika seng ditambahkan sebagai katalis, maka urutan 40 nukleotida akan disalin dengan kesalahan kurang dari 1%.
Pada tahun 1980-an, Thomas Cech dan rekan kerjanya di Universty of Colorado, Boulder, merevolusi pemikiran mengenai evolusi kehidupan, saat mereka menemukan bahwa molekul RNA merupakan katalis penting dalam sel-sel modern.Penemuan ini menolak pandangan yang sudah berlaku sebelumnya bahwa protein (enzim) yang berfungsi sebagai katalis biologis.Cech dan rekan-rekannya menemukan bahwa sel-sel modern menggunakan RNA, yang disebut ribozim, untuk melakukan berbagai kerja seperti menghilangkan intron dari RNA.Ribozim ini juga membantu mengkatalisis RNA baru, khususnya Rrna, Trna, dan mRNA.Dengan demikian, RNA besifat autokatalitik dan dalam dunia prabiotik, jauh sebelum ada enzim (protein) atau DNA, kemungkinan molekul RNA telah sepenuhnya mampu bereplikasi sendri. Banyak diantara ahli biologi sekarang membayangkan suatu “dunia RNA”, suatu periode awal didalam evolusi kehidupan ketika molekul RNA berfungsi sebagai gen yang belum smepurna, dan sebagai katalis organik.
Pengamatan dilaboratorium menunjukan bahwa seleksi  alam pada level molekuler bekerja pada populasi RNA. Berbeda dengan DNA untai ganda, yang memiliki bentuk heliks yang seragam, molekul  RNA untai tunggal memiliki beranekaragam bentuk tiga dimensi spesifik yang disebabkan oleh urutan nukleotidanya. Masing-masing urutan nukleutida melipat membentuk struktur khusus yang diperkuat oleh ikatan hydrogen yang terbentuk diantara bagian pada untai RNA yang memiliki urutan basa yang komplementer. Dengan demikian molekul RNA memiliki suatu genotype (urutan nukleutida) dan suatu fenotip (konfirmasinya, yang berinteraksi dengan molekul sekitarnya dengan cara spesifik). Dalm suatu lingkungan tertentu, molekul RNA dengan urutan basa tertentu lebih stabil dan bereplikasi lebih cepat dengan kesalahan yang lebih kecil dibandingkan dengan urutan lainnya. Dimulai dari suatu mlekul RNA yang beranekaragam yang harus bersaing untuk mendapatkan monomer untuk berepikasi, urutan yang paling cocok dengan suhu, konsnetrasi garam, dan beberapa ciri lain larutan yang lainnya. Dimulai dengan suatu molekul RNA yang beraneka ragam yang harus bersaingan dengan suhu, konsentrasi garam, dan yang memiliki aktifitas autokatalitik yang paling besar akan menang. Keturunan RNA bukan merpakan suatu jenis tunggal RNA akan tetapi suatu keluarga urutan yang berkerabat dekat (karena kesalahan dalam penyalinan). Seleksi akan menyaring mutasi yang terjadi pada urutan aslinya, kadang-kadang suatu kesalahan penyalinan menghasilkan suatu molekul yang melipat menjadi suatu bentuk yang lebih stabil atau lebih sesuai dengan replikasi sendiri dibandingkan dengan urutan turunannya. Kejadian seleksi sama mungkin telah terjadi dalam dunia RNA probiotik.
Bentuk-bentuk yang belum sempurna dari sitesis protein yang diarahkan oleh RNA kemungkinan memiliki ikatan yang lemah antara asam amino spesifik dengan basa disepanjang molekul RNA, yang berfungsi sebagai cetakan sederhana yang mengikat secara bersamaan beberapa asam amino yang panjangnya  cukup untuk berikatan. (sesungguhnya inilah salah satu fungsi rRNA dalam suatu ribosom modern.)jika RNA ternyata mensintesis suatu polipeptida pendek, yang kemudian bertindak sebagai suatu enzim yang membantu replikasi molekul RNA maka dinamika awal bahan kimia melibatkan kerjasama dan kompetisi molekuler. Langkah-langkah pertama menuju replikasi dan translasi informasi genetic ini mungkin telah diambil oleh evolusi molekuler bahkan sebelum RNA dan polipeptida terbungkus didalam membrane.
Pembungkusan gen RNA primitive dan produk polipeptidanya didalam suatu membrane menjadi suatu kejadian penting dalam sejarah awal kehidupan. Begitu ha itu terjadi, protobion dapt berevolusi sebagai unit (kesatuan), dan kerjasama molekuler dapat diperbaiki karena bagian-bagiannya beriteraksi secara yang menguntungkan bagi keberhasilan seluruh protobion yaitu dengan cara pemekatan bersama dengan volume yang sangat sedikit.
e.       Perdebatan mengenai asal mula kehidupan sangat banyak
Simulasi yang dilakukan dilaboratorium tidak dapat membuktikan bahwa jenis evolusi kimiawi yang telah dijelaskan sungguh-sungguh menciptakan kehidupan pada Bumi primitive, akan tetapi simulasi dapat membuktikan sejumlah tahapan kunci yang mungkin telah  terjadi. Asal mula kehidupan masih tetap merupakan spekulais ilmiah, da nada beberapa pendapat alternative mengenai bagaimana beberapa proses kunci terjadi.
Beberapa peneliti mempertanyakan apakah sitesis monomer organik secara abiotik diatas Bumi sangat penting sebagai suatu tahapan pertama dalam asal mula kehidupan.Adalah mungkin bahwa paling tidak beberapa senyawa organik mencapai Bumi primitive dari luar angkasa. Ide ini disebut  juga dengan panspernia mengannggap bahwa ratusan bahkan ribuan meteorit da komet yang menabrak bumi primitive mengandung molekul organic yang terbentuk melalui reaksi abiotic diluar angkasa. Senyawaorganic ekstrarerestrial (benda luar angkasa). Yang meliputi adam amino telah ditemukan dalam meteorit modern dan benda-benda ini kemungkinan telah membuahi Bumi primitive dengan senyawa-senyawa organic. Para ahli biokimia telah mendemontrasikan bahwa molekul organic yang diekstraksi dari suatu meteorit menghasilkan gelembung  (vesikula) kecil ketika dicampur dengan air. Baik panspermia maupun evolusi kimiwi mungkin telah memberikan kontribusi pada kumpulan molekul anorganic yang membentuk kehidupan awal itu, akan tetapi banyak saintis yang mempelajari asala mula yakin bahwa sumber yang berasal dari lluar angkasa hanya memberi sedikit sumbangan.
Beberrapa ahli biologi tertarik pada asal mula kehidupan menentang ide mengenai “dunia RNA” para ahli biologi tersebut mengemukakan bahwa untai RNA yang pendek sekalipun terlalu sulit untuk menjadi molekul pertama yang dapat bereplikasi sendiri. Pada tahun 1991, Julius Rebek, Jr. dan rekan-rekannya di Massachusetts Institute of Tecnonology mensintesis suatu molekul organic sedehana ynag bertindak sebagai suatu cetakan untuk menghasilkan sendiri salianannya. Terobosan ini memperkuat suatu hipotesis alternative bahwa gen-gen asam nukleat telah didahului oleh sistem herediter yang lebih sederhana.
Dimana kehidupan dimulai adalah masalah berbeda.Sampai saat ini, sebagian besar peneiti memilih air dangkal atau endapan yang lembab sebagai tempat yang paling memungkinkan bagi asal mula kehidupan.Beberapa saintis sekarang mempertnyakan pandangan ini, dengan dasar bahwa permukaan bumi sangat tidak ramah bagi kehidupan ketika periode kehidupan baru dimulai.Asteroid dan komet yang merupakan serpihan sisa-sisa dari pembentukan sistem solar (matahari). Menabrak bumi dan planet muda lainnya.Beberapa diantara saintis berpendapat bahwa kehidupan yang baru dimulai tidak dapat bertahan hidup melalui serangan kosmis ini.Kecuali jika kehidupan dimulai pada dasar lautan yang kurang terbuka.Penemuan lubang (vent) dilaut pada akhir tahun 1970an memunculkan kemungkinan bahwa lubang-lubang semacam itu diamsa lallu menyediakan energy pada precursor bahan kimia bagi kemunculan protobion.Analisis filogenetik molekuler menunjukkan bahwa nenek moyang prokariota modern tumbuh dengan cepat. Pada kondisi yang sangat panas dan memungkinkan bertahan hidup dengan menggunakan senyawa sulfur anarganik sangat umum ditemukan pada lubang dilingkungan laut dalam.


3.3  Garis Keturunan Utama Kehidupan
Penyusunan keanekaragaman kehidupan menjadi taksa tertinggi merupakan suatu pekerjaan yang sedang berlangsung. Para ahli sistematika secara tradisional telah menganggap kingdom termasuk sebagai kelompok taksonomi tertinggi. Banyak diantara kita beranggapan bahwa hanya ada dua kingdom dalam kehidupan yaitu tumbuhan dan hewan karena kita hidup di dunia teresterial yang makroskopik, dimana kita jarang melihat adanya organisme yang tidak sesuai dengan dikotomi tumbuhan- hewan. Sistem dua kingdom memiliki sejarah panjang dalam taksonomi formal; Linnaeus membagi semua bentuk kehidupan yang diketahui menjadi kingdom tumbuhan dan hewan.
Bahkan dengan penemuan dunia mikroba yang sangat beranekaragam, sistem dua kingdom itu masih tetap bertahan. Bakteri ditempatkan dalam kingdom tumbuhan, dinding selnya yang kaku dipakai sebagai pembenaran. Organisme eukariotik uniselular dengan kloroplas juga dianggap sebagai tumbuhan. Fungi juga, termasuk ke dalam kelompok tumbuhan. Karena sebagian fungi tidak bergerak, meskipun tidak ada fungi yang berfotosintesis. Fungi memiliki sedikit kesamaan struktur dengan tumbuhan hijau. Dalam sistem dua kingdom , makhluk uniseluler yang bergerak dan menelan makanan-protozoa- disebut hewan. Mikroba seperti Euglena yang bergerak akan tetapi berfotsintesis diakui oleh para ahli dikedua bidang botani dan zoology, sehingga dalam taksonomi. Euglena terdapat pada kingdom tumbuhan dan hewan. Sistem dengan kingdom tambahan telah diusulkan banyak ahli biologi, tetapi tidak ada yang menjadi popular dikalangan mayoritas para ahli biologi sampai Robert H, Whittaker dari Cornell University berhasil mengemukakan pendapatnya mengenai suatu sistem dengan lima kingdom pada tahun 1969. Whittaker menyebut kelima kingdom tersebut sebagai Monera, Protista, Plantae, Fungi dan Animalia.
Sistem lima kingdom mengakui adanayadua jenis sel yang berbeda secara mendasar, yaitu prokariotik dan eukariotik dan memisahkan prokariota (yang umum disebut bakteri)  dari semua eukariota dengan menempatakannya dalam kingdim tersendiri, yaitu monera. Dengan mengumpulkan semua prokariota bersama-sama dalam kingdom Monera, sistem lima kingdom berbeda dari sistem klasifikasi lainnya yang telah diusulkan lebih dahulu. Suatu ciri umum sistem lima kingdom dan sistem klasifikasi lainnya adalah pengakuan tiga kingdom eukariota multiseluler, yaitu Plantae, Fungi dan Animalia. Tumbuhan, fungi dan hewan umumnya berbeda dalam struktur, siklus hidup, dan dalam cara mendapatkan makanan, kriteria yang digunakan oleh Whittaker untuk mendefinisikan kingdom ini. Tumbuhan bersifat autotrofik dalam cara mendapatkan makanannya, yaitu membuat makanannya sendiri melalui fotosisntesis. Fungi adalah organisme heterotrofik yang bersifat menyerap (absortif) dalam cara mendapatkan makanannya. Sebagian besar fungi adalah pengurai yang hidup terkubur dalam sumber makanannya, mensekresikan enzim pencernaan dan menyerap molekul organik kecil yang merupakan hasil pencernaan. Sebagian besar hewan hidup dengan menelan makanan dan mencernanya di dalam rongga khusus. Dalam sistem lima kingdom, Protista terdiri dari semua eukariota yang tidak masuk ke dalam definisi tumbuhan, fungi, atau hewan. Sebagian besar Protista berbentuk uniseluler, akan tetapi kingdom Protista yang dibuat Whittaker juga mencakup organisme multiselular yang relatif sederhana yang diyakini merupakan keturunan langsung Protista uniseluler.
Seperti sistem klasifikasi lainnya, sistem lima kingdom bukan suatu fakta alamiah, tetapi suatu hasil buatan manusia. Sistem klasifikasi merupakan satu upaya untuk mengatur dan menyusun keanekaragaman kehidupan menjadi suatu sistem yang berguna, dan diharapkan secara filogenetik  masuk akal. Selama dua dekade belakangan, para ahli sistematika yang menggunakan pembandingan asam nukleat dan protein untuk melacak hubungan antara kelompok organisme yang berbeda mengalami permasalahan dengan sistem tradisional lima kingdom. Sistem klasifikasi lainnya muncul dari penolakan terhadap sistem lima kingdom. Sehingga pada saat ini muncul sistem domain kehidupan, yang seacara umum terbagi atas tiga domain (Purwoko, 2009).


Gambar 3. Tiga Domain Kehidupan (Purwoko, 2009).



BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Simpulan pada makalah ini yaitu sebagai berikut :
1.      Sejarah kehidupan dibumi bermula antara 3,5 dan 4,0 miliar tahun silam. Bumi terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun silam, dan kemungkinan kehidupan baru dimulai beberapa ratus juta tahun kemudian. Isotop karbon yang menunjukkan adanya aktivitas metabolisme organism dalam batuan yang berumur 3,8 miliar tahun di Greenland.
2.      Evolusi kimiawi prabiotik yaitu perubahan yang diakibatkan adanya proses-proses kimiawi yang terjadi pada organisme prokariotik yang terjadi akibat adanya seleksi alam atau lingkungan yang ekstrim sehingga menghasilkan sel-sel yang sangat sederhana melalui serangkaian dari empat tahap utama antara lain sintesis abiotik, penggabungan molekul-molekul kecil ini menjadi makromolekul, termasuk protein, asam amino, dan pengemasan molekul-molekul ini menjadi ‘protobion’, tetesan dengan membran-mebran yang menjadi kimia internal yang berbeda dari lingkungannya dan proses molekul yang bereplikasi –sendiri, yang akhirnya memungkinkan terjadinya pewarisan sifat. Asal mula kehidupan di bumi yaitu bermula pada organisme prokariotik yang memiliki ukuran yang begitu kecil dan memiliki tingkat perubahan yang begitu cepat yang di timbulkan dari alam.
3.      Garis keturunan utama kehidupan yaitu berawal dari kelompok organisme prokariotik yang menghuni peradaban dunia di masa lampau dan seiring berjalannya waktu terjadi perubahan dimuka bumi akibat faktor lingkungan sehingga muncul berbagai macam mahluk hidup.
3.2  Saran
Saran yang dapat kami ajukan dari pembuatan makalah ini yaitu apabila ada kesalahan dalam pembuatan makalah kami mohon dikoreksi agar kami dapat mengetahui kesalahan kami dan memperbaikinya karena tidak ada manusia yang sempurna dan kesempurnaan cuman milik Allah SWT.














DAFTAR PUSTAKA
Campbell, N. A,  2004, Biologi Edisi Kelima Jilid 2, Erlangga, Jakarta.
                           .,2008, Biologi Edisi Kedelapan Jilid 2, Erlangga, Jakarta.
Purwoko, T., 2009, Fisiologi Mikroba, Bumi Aksara, Jakarta.          


Tidak ada komentar:

Posting Komentar